Showing posts with label Materi. Show all posts
Showing posts with label Materi. Show all posts

Wednesday, 28 August 2019

Di selamatkan oleh Iman atau perbuatan? (Paulus vz Yakobus)


Pada zaman bapak-bapak gereja persoalan antara tulisan Paulus “dibenarkan karena iman dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat” ( Roma 3:28) dan tulisan Yakobus ”Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan -perbuatannya dan bukan hanya karena iman” ( Yakobus 2:24) menjadi perdebatan yang begitu serius sehingga salah seorang bapak gereja Marthin Luther menyebut surat Yakobus sebagai “surat gadungan”.
            Apa yang dituliskan oleh Paulus dan Yakobus tidaklah bertentangan melainkan saling melengkapi satu dengan yang lain, yang dimaksudkan oleh Paulus adalah bahwa amal Yahudi tidak menyelamatkan jika bukan dengan iman kepada Kristus, sedangkan Yakobus menekankan bahwa iman Kristen itu nol besar jika tidak disertai amal Kristen yang mengerjakan keselamatan karena pada saat itu Yakobus mengecam orang-orang yang berkata bahwa mereka memeliki iman tetapi perbuatan mereka tidak menunjukan iman mereka kepada Yesus, perbuatan yang dimaksudkan oleh Yakobus adalah perbuatan  yang berlandaskan kasih, Yakobus tidak menyangkal tentang pentingnya iman tetapi ia menegaskan bahwa iman itu harus menunjukan hasil. Sedangkan yang dimaksudkan Paulus adalah ia menentang manusia yang melakukan perbuatan tertentu sebagai sarana membenarkan diri yaitu perbuatan yang berdasarkan Hukum Taurat yaitu tentang sunat dll, karena kalau dilihat dalam konteksnya masalah yang dihadapinya adalah beberapa orang Kristen Yahudi menuntut agar orang percaya yang berasal dari bangsa kafir melakukan tata cara bangsa Yahudi agar dapat diselamatkan, inilah yang ditentang oleh Paulus. Jadi argumentasi yang dikemukakan oleh Yakobus adalah mengenai perbuatan baik (kemurahan hati, sikap dermawan, bukan pelaksanaan Taurat sebagaimana disebutkan oleh Paulus dalam Roma 3:28)
            Yakobus mempertahankan ajaran Kristus tentang etika yang menuntut agar iman harus dibuktikan oleh buahnya, akan tetapi sama seperti Paulus yang mengatakan bahwa “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir”( Filipi 2:12), Yakobus juga menekankan bahwa seseorang harus diubah oleh karunia Allah Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. ( Yakobus 1:18). Di sisi lain juga Paulus juga menaruh perhatiannya kepada persoalan etika sama seperti Yakobus, Paulus mengatakan bahwa “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”. Paulus tidak memisahkan kebenaran moral dengan keselamatan kekal. Dari sini kita bisa melihat bahwa perkataan Paulus dan Yakobus tidaklah bertentangan.
            Paulus dan Yakobus sama-sama memakai Abraham sebagai contoh, Paulus mengutip bagaimana Abraham menanggapi janji Allah, sebagai bukti bahwa keselamatan diterima oleh karena iman bukan perbuatan ( Roma 4) bagi Paulus bahwa Abraham dinyatakan sebagai orang yang benar dalam Kejadian 15:6. Hal ini secara kronologis terjadi sebelum pelaksanaan sunat yang disebutkan dalam Kejadian 17, Yakobus juga memakai contoh bagaimana Abraham mengurbankan Ishak untuk menunjukan bahwa iman harus diwujudkan dalam perbuatan agar menjadi nyata ( Yakobus 2:21-24), kedua pernyataan di atas tidaklah bertentangan karena memang betul Abraham dipilih oleh Allah bukan karena perbuatannya melainkan oleh karena kasih karunia melalui iman Abraham dan iman itu diwujudkan oleh Abraham dengan mematuhi apa yang dikehendaki oleh Allah, Yakobus menekankan bahwa iman itu akan bekerja sama dengan perbuatan, iman akan mengarahkan orang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang benar.
            Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pertentangan mengenai perkataan Paulus dan perkataan Yakobus, melainkan keduanya saling melengkapi bagaikan dua sisi mata uang, Paulus melihat dari sisi lain dan Yakobus melihat dari sisi lain, menurut saya sangat sederhana “jangan kita melakukan perbuatan baik untuk diselamatkan atau untuk mendapatkan pembenaran, jangan kita mengatakan kalau kita beriman kepada Yesus tetapi tidak menghasilkan perbuatan yang baik, tetapi jika kita mengaku beriman kepada Yesus maka itu akan berdampak dalam setiap perbuatan kita yang mencerminkan Yesus. 

Tuesday, 27 August 2019

TINJAUAN SEKILAS INJIL PERJANJIAN BARU

TINJAUAN SEKILAS INJIL PERJANJIAN BARU

4.1. Perjanjian Baru Diperkenalkan
               Bukan hal yang mengherankan walaupun Perjanjian Baru ditulis lebih dari 70 tahun oleh paling tidak delapan orang yang berbeda latar belakang dan pendidikan, namun Perjanjian Baru memiliki kesatuan yang luar biasa di dalam susunan, tema, dan pesan. Petrus seorang nelayan; Lukas seorang tabib; Yakobus saudara Yesus; Yohanes murid yang dikasihi; Paulus seorang cendikiawan; dan yang lainnya dengan berbagai latar belakang telah memberikan masukan kepada pencatatan kisah Injil yang sangat berarti bagi semua percaya.
Tokoh utama dalam Perjanjian Baru adalah Yesus Kristus, yang berinkarnasi,
yang menjadi daging dan tinggal diantara kita. Melalui pelayanan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dia telah membawa pengharapan kepada dunia yang tak berpengharapan. Injil mencatat kehidupan dan pelayanan-Nya; Kisah Para Rasul melaporkan dampak dari berita-Nya melalui pertumbuhan jemaat mula-mula; Surat-surat Kiriman membuat penerapan dari pengajaran-Nya di dalam hidup semua orang percaya; dan kitab Wahyu menyatakan kepada kita janji yang kekal bahwa Dia akan datang kembali untuk menjemput kita.
               Di dalam pelajaran sebelumnya kita menemukan tiga persiapan sejarah untuk era Perjanjian Baru. Persiapan pertama adalah kebudayaan dan pada dasarnya diwakili oleh dunia Yunani. Yang kedua adalah politik yang diwakili oleh dunia Romawi. Setiap persiapan sejarah memberikan masukan kepada dunia Perjanjian Baru, tetapi pengaruh Ibrani adalah yang terpenting. Sumbangan terbesar dari Ibrani adalah Alkitab Ibrani yang kita sebut Perjanjian Lama. Dengan demikian kita melihat hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kristus adalah pusat dan tema yang menyatukan seluruh Alkitab. Tema sentral dari Perjanjian Baru dapat dilihat di dalam Kristus – kemanusiaan, keilahian, dan pelayanan-Nya. Dia disajikan secara sejarah di dalam kisah-kisah Injil dan Kisah Para Rasul; secara doktrin di dalam Surat-surat Kiriman, dan secara nubuatan di dalam kitab Wahyu.
Hubungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru:

Perjanjian Lama
Perjanjian Baru
Fondasi
Struktur
Nubuatan
Penggenapan
Permulaan
Penutup
Merupakan persiapan untuk dan nubuatan dari kemanusiaan, keilahian dan pelayanan Kristus.
Merupakan penyataan, realisasi dan pemberitaan kemanusiaan, keilahian, dan pelayanan Kristus.



4.2. Cara Penyebaran Injil Mula-mula
1)      Sejak awal berdirinya gereja pada hari Pentakosta hingga pertengahan abad kedua, para rasul tidak pernah menulis buku panduan kisah kehidupan Yesus Kristus secara lengkap. Sampai saat itu pemberitaan Injil disampaikan secara lisan (KPR 2:14-40; 3:11-26), padahal Injil berkembang pesat bahkan telah tersebar luas hingga keluar jauh dari Yerusalem.
2)      Munculnya banyak pengkhotbah baru. Saat itu khotbah dianggap sebagai cara yang paling efektif untuk menyebarkan Injil. Dua ciri khotbah mula-mula:
a)      Mengingatkan pada pendengarnya (khususnya orang Yahudi) bahwa Yesus datang untuk menggenapi kitab Perjanjian Lama yang selama ini mereka nantikan.
Karena sampai saat itu orang-orang Yahudi dengan tekun dan rajin membuat testimonia yaitu mendaftarkan nats-nats Perjanjian Lama yang akan digenapi oleh Mesias (Mat 1:22; 12:17-21).
b)      Berisi kesaksian pribadi tentang iman percaya mereka dan berbagai pengalaman mereka bersama Yesus (KPR 4:8-12; 26:12-23).
3)      Materi khotbah kemungkinan besar diperoleh dari logia yaitu kumpulan ucapan-ucapan Yesus yang disusun secara sederhana dan kemudian dibagikan kepada para pengkhotbah sebagai panduan/pedoman.
4)      Pada awalnya kitab-kitab Perjanjian Baru dibaca sendiri (dalam bentuk surat/gulungan papyrus) dan belum dilihat sebagai satu kesatuan sebagaimana yang kita miliki sekarang ini. Setiap penulis/pembaca saat itu menganggap bahwa gulungan surat itu telah menyajikan suatu kisah yang lengkap kepada para pembacanya.
5)      Empat alasan yang melatar belakangi penyusunan dan penjilidan Injil
a)      Kebutuhan informasi dan data yang lengkap tentang kehidupan Kristus, Misi dan pelayanan-Nya.
b)      Berita keselamatan telah tersebar keluar dari Yerusalem.
c)      Munculnya banyak pengkhotbah baru.
d)      Saksi mata tidak bisa selalu hadir untuk mengkontrol isi pemberitaan Injil.

4.3.Asal-usul Kitab Injil
1)      Nama
Istilah Perjanjian Baru atau New Testament memiliki berbagai corak pengertian. Kata perjanjian/testament berasal dari kata Latin Novum Testamentum, he kaine diatheke (Yunani) yang artinya suatu pesan atau wasiat yang terakhir atau suatu ikatan persetujuan atau perjanjian antara dua pihak.




2)      Isi
a)      Penyingkapan rahasia janji Allah yang baru, melalui catatan kata-kata yang diucapkan Yesus.
b)      Terdiri dari 27 artikel yang ditulis oleh kurang lebih 8-9 orang penulis.
c)      Ditulis dalam kurun waktu kurang lebih 50 tahun.

4.4. Cara Mengelompokkan Perjanjian Baru
1)      Karakter Sastra
Pembagian kitab-kitab dalam Perjanjian Baru menurut karakter sastranya:
a)         Sejarah (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Kisah Para Rasul)
-          Matius s/d Lukas adalah gambaran tentang karya dan pelayanan Yesus yang ditulis dari sudut pandang yang berbeda.
-          Kisah Para Rasul adalah lanjutan kisah sejarah dari murid-murid Yesus setelah masa pelayanan Yesus di dunia selesai.
b)      Doktrin (Roma, 1 & 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 & 2 Tesalonika, Ibrani, Yakobus, 1 & 2 Petrus, 1 Yohanes)
-          Disebut kitab-kitab yang berisi doktrin karena dalam kitab-kitab ini terdapat berbagai unsure iman Kristen dan pelaksanaan ajaran Kristen.
c)         Pribadi (1 & 2 Timotius, Titus, Filemon, 2 & 3 Yohanes, Yudas)
-          Surat-surat ini ditujukan kepada perseorangan dengan tujuan memberikan petunjuk/nasehat pribadi.
d)      Nubuatan (Wahyu)
-          Mengungkapkan rahasia masa kini dan masa yang akan datang. Karena diungkapkan dengan gaya simbolisme yang kuat dan penglihatan-penglihatan yang adikodrati maka kitab Wahyu digolongkan sebagai kitab apokaliptik.
2)      Penulis
Semua penulis kitab Perjanjian Baru adalah orang-orang Yahudi kecuali Lukas
a)         Matius, Petrus & Yohanes berasal dari kelompok apostolic/rasul.
b)      Markus, Yudas & Yakobus adalah aktivis jemaat mula-mula (memiliki hubungan yang akrab dan dekat dengan para rasul bahkan pernah bertemu/bergaul dengan Yesus sebelum peristiwa penyaliban-Nya.
c)         Lukas adalah satu-satunya orang kafir, namun memiliki hubungan yang dekat dengan para rasul khususnya Paulus, yang berjasa memperkenalkannya kepada para rasul lainnya dan memberikan keterangan detail tentang berbagai perjalanan misinya.



3)      Periode Penulisan
Walaupun kitab-kitab Injil diletakkan dalam urutan pertama, bukan berarti keempat Injil ditulis lebih dahulu dari kitab-kitab lainnya. Tiga periode penulisan kitab Perjanjian Baru yaitu:
a)         Kelahiran, meliputi seluruh masa kehidupan Tuhan Yesus yang dimulai th.6 SM s/d 30 M.
b)      Perkembangan, meliputi peristiwa yang terjadi antara tahun 30 s/d 60 M, perkembangan Injil yang dimulai di kota Yerusalem, misi Paulus kepada orang-orang non Yahudi s/d tersebarnya Injil ke kota Roma.
   Pemantapan, meliputi peristiwa yang terjadi antara th.60-100 M, selama masa ini sejarah gereja tidak banyak diketahui karena tidak ada catatan-catatan secara teratur. Kemungkinan besar surat-surat Paulus dan Petrus ditulis pada tahun-tahun ini.

Kanon Perjanjian Baru

KANON PERJANJIAN BARU

3.1. Pengertian Kanon
Tujuan penulisan kitab-kitab Perjanjian Baru telah tercapai kira-kira pada akhir abad pertama. Ada kemungkinan bahwa seluruh kitab-kitab Perjanjian Baru dikenal atau dibaca oleh orang-orang Kristen, bahkan mungkin oleh jemaat mula-mula. Sementara kitab-kitab tersebut mulai diedarkan kepada seluruh jemaat yang tersebar di Yerusalem, daerah sekitar bahkan ke Roma, muncul kitab-kitab Apokrifa.
Apokrifa adalah injil lain atau tulisan lain yang bertujuan memberikan data-data tentang kehidupan Tuhan Yesus yang tidak terekam oleh keempat Injil. Kitab-kitab apokrifa ditulis setelah keempat Injil namun diragukan kebenarannya karena banyak terdapat dongeng atau hayalan.
Dengan demikian akan muncul pertanyaan di dalam pikiran kita:
1. Kriteria apakah yang dapat dipakai untuk menentukan kitab Injil yang asli/kitab-kitab yang beredar saat ini dengan kitab-kitab apokrifa?
2. Mengapa sebagian kitab diterima sedangkan kitab-kitab yang lainnya ditolak (disebut apokrif)?
3. Berdasarkan prinsip apa keempat Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat lainnya dan Wahyu diterima sebagai Perjanjian Baru sedangkan kitab-kitab lainnya yang hampir sejaman tidak diterima?

Kriteria penyusunan dan pemilahan bahan adalah melalui proses kanonisasi Alkitab. Kanon berasal dari bahasa Yunani yang artinya sebatang ilalang/tongkat/balok kayu yang berfungsi sebagai alat pengukur. Kemudian kata ini dipahami sebagai suatu standard.
Dilihat dari tata bahasanya berarti suatu aturan/prosedur. Dilihat dari kronologinya berarti sebuah daftar waktu. Dilihat dari sasteranya berarti sejumlah karangan yang secara sah dinyatakan sebagai hasil karya seorang pengarang.
Kanon sastra penting artinya karena pikiran/ide seorang pengarang dapat dikenal melalui tulisan/karyanya yang asli. Karangan palsu yang terselip diantaranya dapat menjadi ancaman yang akan membelokkkan/mengaburkan/mengacaukan prinsip-prinsip yang hendak disampaikan oleh penulis. Untuk menyusun kanon Perjanjian Baru, maka unsur keaslian pikiran penulis sangat diperhatikan untuk menentukan standard hidup dan iman Kristen yang pasti.





3.2. Kriteria Kanonisasi Alkitab
3.2.1. Ilham
Segala tulisan yang diilhamkan oleh Allah disebut Firman Allah. Kitab suci adalah Firman Allah yang tertulis dan memiliki otoritas (2 Tim 3-16-17). Dengan demikian segala tulisan yang tidak diilhamkan Allah bukan Firman Allah.
Cara untuk mengetahui bahwa tulisan di dalam Perjanjian Baru diilhamkan oleh Allah dapat dilihat dari: isinya, pengaruh moralnya, kesaksian gereja mula-mula. Ketiga hal ini dapat mengarah kepada satu pokok pikiran yang sama yaitu YESUS.
Injil berisi tentang riwayat hidup dan pelayanan Yesus, Kisah Para Rasul adalah pengaruh dari pelayanan Yesus di dalam diri murid-murid dan orang-orang yang menerima Injil, Surat-surat Paulus dan Surat Kiriman lainnya berisi ajaran teologis dan praktis yang bersumber pada penghayatan diri Yesus, dan Wahyu menubuatkan hubungan Yesus dengan masa depan.

3.2.2. Kesaksian Internal
Penulis Perjanjian Baru seringkali menekankan bahwa apa yang ditulisnya adalah Firman Allah (1 Tes 4:15; 1 Kor 7:10,25). Penulis Perjanjian Baru juga sering mengutip Perjanjian Lama yang diakui sebagai Firman Allah (KPR 28:25-27; 2 Tim 3:15; 2 Pet 1:20-21; Ibr 8:8). Penulis Perjanjian Baru mengakui bahwa mereka adalah utusan Tuhan (Gal 1,1,12), sehingga berita yang disampaikan dapat diterima sebagai Firman Allah oleh pendengarnya (1 Tes 2:13). Bahkan penulis mengatakan dengan tegas, “terkutuklah Injil yang tidak sesuai dengan Firman Allah (Gal 1:6-9; 2 Tes 3:14). Surat-surat Paulus segera dapat diterima dan diakui oleh gereja (ini merupakan awal dari gerakan munculnya suatu kanon), ketika surat-surat tersebut mulai disejajarkan dengan surat-surat lainnya (2 Pet 3:15-16).

3.2.3. Kesaksian Eksternal
Perbedaan kitab-kitab yang kanonik dan non kanonik adalah hasil dari kesadaran rohani yang terus berkembang. Karena pada awalnya gereja tidak menentukan kanon, tetapi mereka mengenali kanon.
Kesaksian terhadap keberadaan kanon Perjanjian Baru ada tiga hal yaitu:
1) Kesaksian Tidak Resmi
Beberapa penulis Perjanjian Baru pernah mengutip baik secara langsung atau tidak langsung beberapa bagian kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Kutipan-kutipan itu justru telah menjadi bukti nyata akan keberadaan dan kuasa dari kitab-kitab tersebut.



Contoh orang-orang (bapa-bapa gereja) yang pernah mengutip Perjanjian Baru:
Klemens (doktrin tertua yang ditemukan kira-kira th.95 M): Codex Aleksandrianus. Ditulis di kota Roma, dialamatkan kepada gereja Korintus. Kitab yang dikutipnya diambil dari: Ibrani, 1 Korintus, Roma dan Matius.
Ignatius dari Siria (116 M), ia menyatakan mengenal semua surat Paulus dan mengutip Matius. Dalam pernyataan isinya ia mengatakan: “selain kitab-kitab Perjanjian Lama, Firman Allah (yaitu Perjanjian Baru) memiliki kuasa.”
Yustinus Martir (100-165 M), berasal dari Yunani Siria, seorang bekas ahli filsafat menyinggung akan adanya keempat Injil, KPR dan beberapa surat Paulus. Ia mengatakan bahwa ‘kenangan para rasul’ yang disebut Injil dibaca setiap hari Minggu di dalam kebaktian di gereja bersama-sama kitab Perjanjian Lama. Berdasarkan pernyataan ini dapat kita simpulkan bahwa selain Perjanjian Lama, ada norma baru yang mulai muncul (yaitu kanon Perjanjian Baru) dalam bentuk pembacaan kitab suci dalam gereja mula-mula.
Ireneus hingga mencapai puncaknya th.170 M; telah dicapai suatu kesepakatan yang bulat bahwa kitab-kitab suci Perjanjian Baru memiliki kuasa. Gnostisisme dan ajaran sesat lainnya yang juga ikut berkembang seiring perkembangan kanon Perjanjian Baru menjadi sebab membanjirnya tulisan-tulisan pembelaan terhadap Injil yang disebut apologet yang terus berlangsung hingga zaman Origenes (250 M).
Tertulianus dari Kartago (200 M) mengatakan: tujuan mereka mengutip beberapa bagian dari Perjanjian Baru bukan sekedar sebagai gambaran/ilustrasi, tetapi sebagai bukti adanya kebenaran dan mengakuinya berlakunya bagi gereja. Dokumen lengkap dari kedua perjanjian itu yang dimaksudkan adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

2) Daftar Resmi/Kanon
Daftar kitab-kitab Perjanjian Baru yang dikenal/diterima oleh setiap gereja atau pemimpin umat, dapat dilihat dari kutipan-kutipan dan pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam tulisan bapa-bapa gereja yang pertama.
Untuk mengantisipasi pertanyaan tentang keabsahan karangan penulis Perjanjian Baru yang terus bermunculan, Dewan Gereja telah membuat/menyusun sebuah daftar kanon yang telah diseleksi dan diuji kebenarannya sebagai Firman Allah yang memiliki kuasa.
Tetapi daftar ini tidak resmi/tidak mutlak kebenarannya karena dalam penyusunannya seringkali lebih dipengaruhi oleh selera/pandangan pribadi, kebiasaan umum, standard/kanon wilayah setempat, gereja atau pandangan perseorangan.
Contohnya: kanon pertama yang secara sadar dianut, banyak pengikutnya, kanon marcion (140 M).
Marcion adalah anak seorang uskup di Sinope di daerah Pontus. Ia seorang yang anti Yahudi, ia berusaha menanggalkan seluruh kitab Perjanjian Lama yang dianggapnya memiliki pengaruh Yahudi yang sangat kental, dan menetapkan suatu kanon Perjanjian Baru yang benar-benar bersih dari pengaruh Yahudi.
Ia menetapkan Injil Lukas sebagai Injil (dasar pengajarannya), walaupun ia tetap menolak dua pasal pertama dan Injil Lukas yang membahas tentang anak dara yang akan melahirkan Mesias, memakai 10 surat Paulus (Galatia, 1 & 2 Korintus, 1 & 2 Tesalonika, Efesus, Kolose, Filipi, Filemon), tidak menolak surat-surat penggembalaan dan kitab Ibrani.
Kanon Marcion ini kemudian menimbulkan reaksi yang hebat di dalam gereja karena ia telah menolak keabsahan kitab-kitab tertentu, sedangkan kitab-kitab lain yang ditolaknya telah dianggap sebagai kitab yang memiliki kuasa pada zamannya. Hal ini menyebabkan ajaran-ajaran sesat melancarkan serangannya terhadap kanon Perjanjian Baru. Ireneus dan Tertulianus menulis lima kitab untuk menyanggah pandangan Marcion.
Penolakan bapa-bapa gereja terhadap pandangan Marcion ini adalah: Marcion dianggap sewenang-wenang karena buku-buku yang diakuinya pasti merupakan kitab-kitab yang telah diterima keotentikannya. Buku-buku yang ditolaknya telah diterima sebagai kanonik oleh masyarakat luas.

3) Konsili
Pembicaraan resmi tentang kanon oleh utusan gereja dalam suatu dewan resmi (konsili) terjadi pada akhir abad ke-4. Konsili I – Konsili Laodikia (363) bukan merupakan sidang/kongres gereja-gereja yang lengkap karena hanya diwakili oleh sebagian besar wilayah Frigia. Isi ketetapan ke-59 dikonsili ini adalah: kitab-kitab kanonik Perjanjian Baru saja yang boleh dibacakan dalam kebaktian-kebaktian di gereja.
Isi ketetapan ke-60 berisi daftar kanon Perjanjian Baru yang pasti (Matius s/d Wahyu) Konsili III – Konsili Kartago (397) dan Konsili IV – Konsili Hippo (419), memutuskan hal yang sama dengan Konsili Laodikia yaitu menetapkan daftar ke-27 kitab Perjanjian Baru.


3.3. Kesimpulan
Sepanjang keempat abad pertama dari kekristenan, gereja-gereja mula-mula di wilayah timur dan barat belum menerima secara lengkap ke-27 kitab-kitab Perjanjian Baru. Ke-27 kitab Perjanjian Baru tidak pernah diterima secara paksa oleh gereja-gereja mula-mula. Gagasan untuk mengkanonkan kitab Perjanjian Baru, baru muncul pada abad ke-4, namun demikian kitab-kitab tersebut sebelumnya sudah diterima sebagai kitab suci gereja-gereja mula-mula.
Kanon Perjanjian Baru yang sekarang ini merupakan hasil dari suatu kumpulan tradisi lisan dan tulisan serta berdasarkan pertimbangan yang luas dan mendapatkan pengakuan gereja karena keaslian dan daya gerak yang menyertainya.
Dua faktor penting yang menjadi penentu/standard pemilihan kanon Perjanjian Baru adalah: 1) dikarang oleh sekelompok rasul; 2) isi karangan ditujukan  kepada gereja dan merupakan satu kesatuan.
Berdasarkan pengamatan, ada tiga tahap pembentukan kanon Perjanjian Baru yaitu: 1) tulisan-tulisan pengarang kitab Perjanjian Baru yang dikutip secara tersendiri oleh para pengarang (bapa-bapa gereja) dimaksudkan untuk menitikberatkan nilai kesaksian mereka; 2) usaha bapa-bapa gereja (Ireneus & Origenes) terlibat dalam perdebatan semata-mata adalah untuk membela kebenaran/keabsahan Injil itu sendiri dan bukan untuk memperoleh dukungan gereja tertentu; 3) keputusan untuk malakukan konsili, berdasarkan pertimbangan/pandangan pemimpin sebelumnya dan menetapkan suatu pemisahan resmi antara tulisan kanonika dari apokrifa.
Kanon Perjanjian Baru tidak dibuat berdasarkan penilaian yang sewenang-wenang atau dihasilkan oleh sebuah konsili melainkan bukti nyata dari adanya unsur keharmonisan dan ilham Roh Kudus.

Thursday, 25 July 2019

Pembuktian Kebangkitan Yesus: Bukti Internal dan Eksternal


Pembuktian Kebangkitan Yesus: Bukti Internal dan Eksternal 

Bukti-bukti Eksternal
Yang dimaksud dengan bukti-bukti eksternal adalah bukti-bukti yang berasal dari dokumen-dokumen saksi non-primer, yaitu: preservasi dokumen-dokumen, arkeologi, kesaksian ekstra-biblis dan keterpeliharaan dalam lingkungan yang rentan.[1]

Preservasi dokumen-dokumen
Ini berkaitan dengan bukti naskah PB, yang adalah dokumen-dokumen sumber utama terkait kebangkitan. Sementara kita tidak memiliki naskah aslinya, bukti naskah PB sangat kuat. Kita tidak hanya memiliki ratusan naskah yang ditulis sebelum abad kelima (sebagian bahkan abad kedua dan ketiga), tetapi kita memiliki banyak kutipan dari bapa-bapa gereja mula-mula yang memadai untuk dapat direkonstruksi menjadi sebagian besar PB. Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa naskah-naskah yang kita baca sekarang secara mendasar adalah naskah-naskah yang sama seperti diberikan pada awalnya. Walaupun terdapat perbedaan-perbedaan di antara naskah-naskah yang ada, bahkan Bart Ehrman mengatakan bahwa tidak ada doktrin utama yang terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan tersebut, dan pada umumnya perbedaan-perbedaan tersebut tidak penting.
Sebagai tambahan, dan sangat penting, bukti naskah menunjukkan kepada kita bahwa catatan-catatan injil tentang kebangkitan semuanya ditulis di dalam sebuah generasi dari kejadian-kejadian yang mereka catat, memberikan bukti bagi klaim kesaksian saksi-mata mereka. Oleh karena itu, belum sempat ada waktu untuk munculnya material legendaris.

Arkeologi
Kesaksian arkeologi telah secara kontinu meneguhkan data-data Kitab Suci. Ketika terdapat keraguan di masa lalu mengenai catatan-catatan Injil (e.g. tanggal sensus dalam Lukas dan kekuasan Quirinius, Gubernur Siria, penanggalan Injil Yohanes, dst.), penemuan-penemuan arkeologis dan historis nampaknya selalu meneguhkan Alkitab menjadi akurat secara historis.
Arkeolog Yahudi Nelson Glueck mengatakan tentang Alkitab: “Mungkin dinyatakan secara kategorial bahwa tidak ada satupun penemuan arkeologis yang telah dipertentangkan dengan referensi alkitabiah. Nilai penemuan-penemuan arkeologis telah dibuat yang meneguhkan dalam garis besar yang jelas atau di dalam pernyataan-pernyataan historis yang sangat rinci di dalam Alkitab. Dan, dengan gagasan yang sama, evaluasi deskripsi-deskripsi yang tetap telah membawa kepada penemuan-penemuan yang ajaib.[2]
Sir William Ramsay dipandang sebagai salah satu arkeolog terbesar yang pernah hidup. Sebagai seorang ateis, ia berniat untuk menggagalkan ketepatan historis Kitab Suci. Namun, setelah meneliti tulisan-tulisan Lukas (Lukas-Kisah Para Rasul), ia berubah pikiran. Ia menjadi seorang pembela yang kokoh dari kekristenan dan ketepatan historis catatan-catatan injil. Mengenai Lukas ia menulis: “Lukas adalah seorang sejarahwan kelas satu; bukan hanya pernyataan-pernyataannya akan fakta dapat dipercaya… penulis ini harus ditempatkan di antara sejarahwan-sejarahwan yang paling besar”.
Selain itu, tidak dapat diabaikan bahwa mayat Yesus tidak pernah ditemukan. Ini adalah sebuah pokok arkeologi. Digabungkan dengan pemahaman bahwa kekristenan muncul sangat awal dengan dasar kebangkitan Kristus dan bahwa terdapat banyak pengejek, bukti arkeologis dari kubur yang kosong historis adalah penting. Mereka yang menyangkali kebangkitan pada abad pertama tidak dapat menghadirkan sebuah mayat, demikian juga mereka yang menyangkalinya di masa sekarang ini. Ini adalah sebuah syarat yang diperlukan untuk menghadirkan bukti dari keyakinan seperti itu.

Kesaksian ekstra-biblis
Lebih dari 39 sumber ekstra-biblis menyaksikan lebih dari 100 fakta berkaitan dengan kehidupan dan pengajaran-pengajaran Yesus. Selain itu, semua Bapa-bapa Gereja mula-mula (yang kesaksiannya tidak dapat diabaikan hanya karena mereka percaya Kristus adalah Mesias) adalah sejarahwan-sejarahwan Yahudi dan juga Romawi. Terdapat banyak tulisan ekstra-biblis dari abad pertama dan kedua yang menyaksikan fakta bahwa orang-orang Kristgen mempercayai bahwa Kristus melakukan hal-hal luar biasa, mati di kayu salib, dan bangkit dari kubur:
Josephus, Clement, Papias, Didache, Barnabas, Justin Martyr, Ignatius, Irenaeus, Hermas, Tatian, Theophilus, Athenagoras, Clement of Alexandria.
            Dalam kenyataan, ‘kesaksian ekstra-biblis’ bukanlah istilah yang terbaik untuk serangkaian bukti ini. Itu seharusnya disebut ‘kesaksian kolaboratif’ karena bukanlah kesaksian di luar Alkitab atau bahkan Perjanjian Baru yang kita cari, melakukan bukti kolaboratif (dari banyak orang) di luar dokumen biblis yang ditaruh di bawah investigasi historis. Oleh karenanya, PB itu sendiri menyediakan dukungan kolaboratif yang memadai untuk kejadian-kejadian kebangkitan karena semua 27 dokumen (kitab) harus dilihat sebagai bagian-bagian dari bukti individual yang berdiri sendiri. Tidak ada alasan, pada titik ini, untuk meletakkan mereka bersama di dalam corpus (harf. tubuh) tunggal yang disebut “Perjanjian Baru” dan mengatakan bahwa corpus tersebut harus menemukan dukungan kolaboratifnya sendiri. Lukas mendukung Markus, Yohanes mendukung Matius. Paulus mendukung Kisah Para Rasul. Intinya adalah bahwa setiap kitab PB menyediakan bukti kolaboratif yang kuat untuk historisitas kebangkitan.
Sebagai catatan pinggir, adalah lucu ketika ada orang-orang yang berkata bahwa orang-orang Kristen harus menghadirkan bukti ‘sekuler’ untuk kebangkitan, dengan mendefinisikan ‘sekuler’sebagai mereka yang bukan orang-orang percaya. Ini seakan-akan hendak menyatakan bahwa mereka yang percaya di dalam kebangkitan kurang berbobot daripada mereka yang tidak percaya kepadanya. Sebaliknya, jika kebangkitan sungguh-sungguh terjadi, maka tentunya orang-orang yang paling dekat dengan bukti tersebut akan mempercayainya daripada tidak mempercayainya, walaupun tentu tidak berlaku mutlak.  Para penjaga yang ditempatkan di depan kubur Yesus, saat gempa terjadi dan kubur terbuka dan malaikat datang, tidak menjadi percaya dan malah menyusun konspirasi dengan para imam kepala dan tua-tua (Mt. 28:11-15).

Keterpeliharan dalam lingkungan yang rentan
Kenyataan bahwa kekristenan telah dengan berhasil melalui klaim-laim kebenaran publik dan laur biasa itu menghadirkan serangkaian bukti eksternal. Bahwa kekristenan memiliki penentang-penentang yang menjadi seteru didukung oleh semua bukti, baik internal maupun eksternal. Para penentang kekristenan memiliki setiap kesempatan untuk menyingkapkan rekayasa kebangkitan jika itu benar-benar suatu rekayasa. Kenyataan bahwa mereka yang berseteru dengan kekristenan tidak dapat, dari dahulu hingga saat ini, menghadirkan kasus yang substansial atau kompak melawan kekristenan terkait dengan historisitas kebangkitan.

Menurut Gregory Boyd,
“Christianity was born in a very hostile environment. There were contemporaries who would have refuted the Gospel portrait of Jesus—if they could have. The leaders of Judaism in the first century saw Christianity as a pernicious cult and would have loved to see it stamped out. And this would have been easy to do—if the ‘cult’ had been based on fabrications. Why, just bringing forth the body of the slain Jesus would have been sufficient to extinguish Christianity once and for all. In spite of this, however, Christianity exploded. . . . Even those who remained opposed to Christianity did not deny that Jesus did miracles, and did not deny that His tomb was empty.”[3]

“Kekristenan lahir di dalam lingkungan yang rawan. Terdapat orang-orang yang tentu telah menyangkili gambaran injil tentang Yesus – jika mereka bisa. Para pemimpin Yudaisme pada abad pertama melihat kekristenan sebagai suatu kultus yang buruk dan tentu akan senang melihatnya disingkirkan. Dan ini sebenarnya dapat dengan mudah dilakukan – jika ‘kultus’tersebut didasarkan pada rekayasa-rekayasa. Dengan hanya membawa tubuh Yesus yang dibunuh akan sangat cukup untuk mematikan kekristenan sekali untuk selamanya. Namun sebaliknya, kekristenan meledak… Dan mereka yang tetap mementang kekristenan tidak dapat menyangkali bahwa Yesus melakukan mukjizat-mukjizat, dan tidak dapat menyangkali bahwa kubur-Nya kosong”.

Teori-teori kebangkitan yang mungkin ada[4]
Terdapat setidaknya 5 teori yang mungkin: kekristenan, halusinasi, mitos, konspirasi dan pingsan.
1
Yesus mati
Yesus bangkit
Kekristenan
2
Yesus mati
Yesus tidak bangkit — para rasul tertipu
Halusinasi
3
Yesus mati
Yesus tidak bangkit — para rasul pembuat mitos
Mitos
4
Yesus mati
Yesus tidak bangkit — para rasul penipu
Konspirasi
5
Yesus tidak mati

Pingsan

Teori ke-2 dan ke-4 menghasilkan dilemma: jika Yesus tidak bangkit, maka para rasul, yang mengajarkan bahwa Ia bangkit, adalah tertipu (jika mereka berpikir Ia bangkit) atau penipu (jika mereka tahu Ia tidak bangkit). Orang-orang yang menolak kebangkitan tidak dapat menghindari dilemma ini hingga mereka tiba pada kategori lain yaitu mitos. Ini adalah alternatif yang nampaknya paling terkenal sekarang ini.
            Itu berarti kemungkinannya adalah (1) kebangkitan benar-benar terjadi, (2) para rasul ditipu oleh sebuah halusinasi, (3) para rasul membuat sebuah mitos, tidak benar-benar terjadi, (4) para rasul adalah penipu-penipu yang berkonspirasi menghadirkan kepada dunia suatu kebohongan yang paling terkenal dan berhasil, atau (5) Yesus hanya pingsan dan disadarkan kembali, dan bukan dibangkitkan. Semua kemungkinan ini masuk akan.
            Argumentasi yang dibangun di sini serupa dengan kebanyakan argumentasi akan keberadaan Allah. Baik Allah maupun kebangkitan Yesus tidak dapat secara langsung diamati, tetapi dari data yang secara langsung dapat diamati kita dapat berargumentasi bahwa satu-satunya penjelasan yang mungkin adalah penjelasan Kristen.

Sanggahan terhadap Teori Pingsan
Ada 8 bukti untuk menyanggah teori pingsan:
 (1) Yesus tidak mungkin terhindar dari penyaliban. Prosedur-prosedur Romawi sangat hati-hati dalam menghilangkan kemungkinan ini. Hukum Romawi bahkan memberikan hukuman mati bagi setiap prajurit yang membiarkan tahanan hukuman mati kabur dalam cara apapun.
(2) Kenyataan bahwa prajurit Romawi tidak mematahkan kaki Yesus, sebagaimana yang ia lakukan kepada dua orang lainnya (Yoh. 19:31-33) menunjukkan bahwa prajurit tersebut yakin bahwa Yesus telah mati. Mematahkan kaki bertujuan untuk mempercepat kematian supaya mayatnya dapat diturunkan sebelum hari Sabat (ay. 31)
(3) Yohanes, seorang saksi mata, menegaskan bahwa ia melihat darah dan air mengalir keluar dari lambung Yesus yang ditombak (Yoh. 19:34, 35).
(4) Tubuh-Nya dibungkus kain kafan dan dikubur (Yoh. 19:38-42).
(5) Penampakan-penampakan pasca kebangkitan menyakinkan para murid, bahkan Tomas yang tidak percaya, bahwa Yesus hidup (Yoh. 20:19-29). Adalah mustahil bagi para murid untuk menjadi begitu diubahkan dan yakin teguh jika Yesus hanya pingsan. Seorang yang setengah mati yang kabur dari hukuman mati tidak akan disembah sebagai tuhan ilahi dan penakluk kematian.
(6) Bagaimana mungkin penjaga-penjaga Romawi ketakutan dengan tubuh yang pingsan? Atau oleh murid-murid yang tidak bersenjata?
(7) Bagaimana mungkin seorang setengah mati yang pingsan dapat menggeser batu besar yang menutup kubur? Siapa yang dapat menggeser batu besar tersebut jika bukan malaikat?  Tidak ada yang dapat menjawabnya. Baik orang-orang Yahudi maupun Romawi tidak mungkin menggeser batu tersebut, karena niat mereka justru agar kubur tersebut tetap tertutup dan disegel, dan orang-orang Yahudi menaruh batu tersebut di sana, dan penjaga-penjaga Romawi akan membunuh-Nya jika Yesus kabur, atau mereka akan dibunuh jika membiarkan Yesus kabur.
(8) Jika Yesus bangun dari kondisi pingsan, ke mana Ia pergi? Mengapa lalu hilang? Tidak ada data sama sekali tentang kehidupan Yesus setelah penyaliban. Seorang pria seperti itu, dengan masa lalu seperti itu, pastilah meninggalkan jejak-jejak yang dapat ditelusuri.

Sanggahan terhadap Teori Konspirasi
Mengapa mustahil bagi para murid untuk mengarang seluruh kisah ini?
 (1) Blaise Pascal memberikan sebuah bukti yang sederhana mengapa itu tidak mungkin:
The apostles were either deceived or deceivers. Either supposition is difficult, for it is not possible to imagine that a man has risen from the dead. While Jesus was with them, he could sustain them; but afterwards, if he did not appear to them, who did make them act? The hypothesis that the Apostles were knaves is quite absurd. Follow it out to the end, and imagine these twelve men meeting after Jesus' death and conspiring to say that he has risen from the dead. This means attacking all the powers that be. The human heart is singularly susceptible to fickleness, to change, to promises, to bribery. One of them had only to deny his story under these inducements, or still more because of possible imprisonment, tortures and death, and they would all have been lost. Follow that out. [5] 

Pertanyaan penting dalam argument ini adalah kenyataan historis bahwa tidak seorangpun pernah mengaku bahwa keseluruhan kisah kebangkitan adalah sebuah kebohongan, sebuah pemalsuan yang sengaja. Bahkan ketika orang-orang dianiaya, menyangkali Kristus dan menyembah Kaisar, mereka tidak akan pernah membiarkan kucing tersebut keluar dari karung, karena memang tidak pernah ada kucing di dalamnya. Tidak ada orang Kristen hyang mempercayai bahwa kebangkitan adalah sebuah konspirasi. Jika iya, mereka tidak akan menjadi Kristen.
 (2) Jika mereka mengarang cerita tersebut, mereka adalah orang-orang pengkhayal yang paling kreatif, cerdas dan bahkan genius di sepanjang sejarah manusia, jauh mengalahkan pujangga-pujangga sastra dunia seperti Shakespeare, dll.
(3) Karakter para murid justru bertentangan dengan teori konspirasi. Mereka adalah orang-orang sederhana, jujur, awam, dan bukan pendusta-pendusta yang mahir dan menyakinkan. Ketulusan mereka terlihat dari perkataan dan perbuatan mereka. Mereka mengkhotbahkan Kristus yang bangkit dan mereka menghidupi Kristus yang bangkit. Mereka bersedia untuk mati bagi Tuhan mereka. Tidak ada yang dapat membuktikan sebuah ketulusan melebihi kesyahidan. Kehidupan mereka berubah dari ketakutan menjadi iman, putus asa menjadi keyakinan, kebingungan menjadi kepastian, pengecut yang kabur menjadi keteguhan di bawah ancaman dan sengsara, bukan hanya membuktikan ketulusan mereka tetapi bahkan kepada sebab yang berkuasa. Mungkinkah sebuah kebohongan menghasilkan perubahan hidup sedemikian rupa?
St. Thomas Aquinas mengatakan:
In the midst of the tyranny of the persecutors, an innumerable throng of people, both simple and learned, flocked to the Christian faith. In this faith there are truths proclaimed that surpass every human intellect; the pleasures of the flesh are curbed; it is taught that the things of the world should be spurned. Now, for the minds of mortal men to assent to these things is the greatest of miracles....This wonderful conversion of the world to the Christian faith is the clearest witness....For it would be truly more wonderful than all signs if the world had been led by simple and humble men to believe such lofty truths, to accomplish such difficult actions, and to have such high hopes.[6]

(4) Mustahil ada sebuah motif yang masuk akal untuk kebohongan seperti itu. Kebohongan selalu disampaikan untuk kepentingan pribadi yang egois. Apa untungnya berbohong tentang kebangkitan dengan resiko bahkan mati?  
(5) Jika kebangkitan adalah sebuah kebohongan, orang-orang Yahudi akan menunjukkan mayat-Nya dan menyingkirkan tuntas kebohongan tersrebut. Yang mereka perlu lakukan adalah pergi ke kubur dan mengambil-alih mayat tersebut, apalagi dengan keberpihakan para prajurit Romawi dengan pimpinan mereka kepada mereka.
(6) Para murid mustahil dapat bebas dan lolos dalam memberitakan kebangkitan di Yerusalem, tempaty yang sama dan waktu yang sama, dengan penuh saksi mata jika itu sebuah kebohongan.
William Lane Craig menulis,
Nor again does it seem conclusive to object to the story because it contains what are regarded as inherent absurdities, for example, that the guards would not know that it was the disciples who stole the body because they were asleep or that a Roman guard would never agree to spread a story for which they could be executed that it was the disciples who stole the body because they were asleep or that a Roman guard would never agree to spread a story for which they could be executed.[7]

(7) Jika ada konspirasi, pastilah sudah disingkapkan oleh lawan-lawan para murid, yang jelas punya kepentingan dan kuasa untuk menyingkapkan setiap kebohongan.

Tanggapan akan teori halusinasi
 (1) Terlalu banyak saksi. Halusinasi bersifat pribadi, individual, dan subjektif. Kristus menampakkan diri kepada banyak orang.
(2) Para saksi memenuhi syarat. Mereka sederhana, jujur, bermoral dan menjadi saksi-saksi mata yang pertama dari kejadian kebangkitan Kristus.
(3) 500 orang melihat Yesus bersama-sama, pada waktu dan tempat yang sama (1 Kor. 15:6). Menjadi mustahil jika kemudian 500 orang ini berhalusinasi bersama-sama. Jika 500 orang ini melihat secara terpisah, masih mungkin disebut berhalusinasi, tetapi jika mereka melihat bersama di tempat dan waktu yang sama, maka menjadi sulit sekali diterima bahwa mereka berhalusinasi
(4) Halusinasi biasanya hanya berlangsung beberapa detik atau menit, jarang sekali berjam-jam. Penampakan kebangkitan Yesus, sebaliknya, justru berlangsung selama 40 hari (Kis. 1:3).
(5) Halusinasi biasanya hanya terjadi 1 kali, kecuali bagi orang yang tidak waras. Tetapi penampakan kebangkitan Yesus terjadi berulang-ulang kepada orang-orang biasa (Yoh. 20:19-21:14; Kis. 1:3).
(6) Halusinasi datang dari dalam diri seseorang, dari apa yang ia telah ketahui, setidaknya secara tidak sadar. Yesus sebaliknya melakukan banyak hal yang mengejutkan dan tak terduga (Kis. 1:4, 9) yang nyata dan bukan mimpi.
(7) Para murid bukan hanya tidak mengharapkan ini, tetapi mereka bahkan pada awalnya juga tidak percaya – baik Petrus, para wanita, Tomas, ataupun sebelas murid. Mereka pikir mereka melihat hantu. (Lk 24:36-43).
(8) Halusinasi tidak makan. Kristus yang bangkit makan, setidaknya 2 kali (Lk 24:42-43; Jn 21:1-14).
(9) Para murid menyentuh-Nya (Mt 28:9; Lk 24:39; Jn 20:27).
(10) Mereka berbicara kepada-Nya dan Ia menjawab mereka dan percakapan ini berlangsung selama 40 hari (Acts 1:3).
(11) Para rasul tidak dapat mempercayai halusinasi jika mayat Yesus masih di dalam kubur. Jika ini adalah halusinasi, di manakah mayat-Nya?
(12) Jika para rasul berhalusinasi dan menyebarkan kisah halusinasi mereka, orang-orang Yahudi akan menghentikannya dengan menunjukkan mayat-Nya – kecuali jika para murid telah mencurinya.
(13) Halusinasi hanya dapat menjelaskan penampakan-penampakan pasca-kebangkitan, ia tidak dapat menjelaskan kubur yang kosong, batu besar yang tergeser, dan ketidakmampuan untuk menunjukkan mayat Yesus
C.S. Lewis menulis,
Any theory of hallucination breaks down on the fact (and if it is invention [rather than fact], it is the oddest invention that ever entered the mind of man) that on three separate occasions this hallucination was not immediately recognized as Jesus (Lk 24:13-31; Jn 20:15; 21:4). Even granting that God sent a holy hallucination to teach truths already widely believed without it, and far more easily taught by other methods, and certain to be completely obscured by this, might we not at least hope that he would get the face of the hallucination right? Is he who made all faces such a bungler that he cannot even work up a recognizable likeness of the Man who was himself?[8]

Tanggapan atas teori mitos

(1) Gaya injil-injil berbeda dari gaya semua mitos lainnya. Setiap ahli literature yang mengetahui dan menghargai mitos-mitos dapat meneguhkan ini. Tidak ada kejadian-kejadian yang dilebih-lebihkan secara kekanak-kanakan. Semuanya tepat dan bermakna.
 (2) Masalah kedua adalah tidak ada waktu yang cukup untuk sebuah mitos berkembang. Kebanyakan kitab dalam PB ditulis dalam era para saksi-mata masih hidup.
Julius Muller menegaskannya demikian:
One cannot imagine how such a series of legends could arise in an historical age, obtain universal respect, and supplant the historical recollection of the true character [Jesus]....if eyewitnesses were still at hand who could be questioned respecting the truth of the recorded marvels. Hence, legendary fiction, as it likes not the clear present time but prefers the mysterious gloom of gray antiquity, is wont to seek a remoteness of age, along with that of space, and to remove its boldest and most rare and wonderful creations into a very remote and unknown land.[9] 

 (3) Teori mitos memiliki 2 lapisan. Lapisan pertama adalah Yesus historis, yang tidak ilahi, yang tidak mengklaim keilahian, tidak melakukan mukjizat, tidak bangkit dari mati. Yang kedua, lapisan mitologisasi, adalah injil-injil sebagaimana yang kita miliki, dengan Yesus yang diklaim ilahi, melakukan mukjizat-mukjizat dan bangkit dari kematian. Masalah teori ini adalah tidak ada sama sekali saksi untuk kedua lapisan tersebut.
Agustinus menuliskannya demikian:
The speech of one Elpidius, who had spoken and disputed face to face against the Manichees, had already begun to affect me at Carthage, when he produced arguments from Scripture which were not easy to answer. And the answer they [the Manichees, who claimed to be the true Christians] gave seemed to me feeble—indeed they preferred not to give it in public but only among ourselves in private—the answer being that the Scriptures of the New Testament had been corrupted by some persons unknown...yet the Manicheans made no effort to produce uncorrupted copies.[10] 

William Lane Craig meringkaskannya:
The Gospels are a miraculous story, and we have no other story handed down to us than that contained in the Gospels....The letters of Barnabas and Clement refer to Jesus' miracles and resurrection. Polycarp mentions the resurrection of Christ, and Irenaeus relates that he had heard Polycarp tell of Jesus' miracles. Ignatius speaks of the resurrection. Quadratus reports that persons were still living who had been healed by Jesus. Justin Martyr mentions the miracles of Christ. No relic of a non-miraculous story exists. That the original story should be lost and replaced by another goes beyond any known example of corruption of even oral tradition, not to speak of the experience of written transmissions. These facts show that the story in the Gospels was in substance the same story that Christians had at the beginning. This means...that the resurrection of Jesus was always a part of the story.[11]
(4) Sebuah informasi kecil, yang seringkali diabaikan, yang penting dalam membedakan injil-injil dari mitos: saksi-saksi pertama adalah para wanita. Dalam Yudaisme abad pertama, kaum wanita memiliki status social yang rendah dan tidak memiliki hak untuk menjadi saksi.
(5) PB menyatakan kebangkitan Kristus bukan mitos (2 Pet. 1:16).
(6) William Lane Craig telah meringkaskan argumentasi-argumentasi tekstual yang tradisional yang dikutip secara lengkap di sini: (dari Knowing the Truth About the Resurrection)
(A) Bukti bahwa injil-injil ditulis oleh saksi-saksi:
1. dari injil-injil itu sendiri:
a.                   Gaya penulisannya sederhana dan hidup
b.      Lukas ditulis sebelum Kisah para Rasul dan karena Kisah ditulis sebelum Paulus meninggal, Lukas dibuat cukup awal dan otentik.
c.       Injil-injil juga menunjukkan pengetahuan yang dalam tentang Yerusalem sebelum kehancurannya di tahun 70 masehi.
d.      Nubuat Yesus akan kehancuran Yerusalem ditulis sebelum kehancuran tersebut, karena jika tidak, gereja tentu sudah memisahkan elemen apokaliptik dari nubuat-nubuat tersebut. Karena dunia tidak berakhir dengan kehancuran Yerusalem, maka nubuat-nubuat apokaliptik tentang kehancurannya tentu dibuat sebelum kehancuran tersebut.
e.       Kisah-kisah mengenai kelemahan-kelemahan kemanusiaan Yesus dan kegagalan para murid menunjukkan akurasi injil.
f.       Adalah mustahil untuk para pemalsu menggabungkan cerita yang begitu konsisten seperti yang ada dalam injil-injil. Ia tidak berusaha menekan perbedaan-perbedaan yang justru menunjukkan originalitas mreka. Tidak ada upaya untuk mengharmonisasi injil-injil
g.       Injil tidak mengandung anakronisme; para penulis adalah orang-orang Yahudi abad pertama yang menyaksikan kejadian-kejadian itu.
2. bukti-bukti eksternal:
a.       Para murid pasti telah meninggalkan sebagian tulisan yang digunakan ketika mereka mengajar orang-orang percaya yang berada di tempat-tempat yang jauh. Apakah lagi ini jika bukan injil-injil dan surat-surat PB? Pada akhirnya, para rasul harus menyusun kisah-kisah sejarah Yesus secara akurat sehingga semua upaya buruk dapat dipatahkan dan injil-injil yang asli terpelihara
b.      Ada banyak saksi yang masih hidup ketika kitab-kitab PB ditulis yang dapat bersaksi apakah mereka berasal dari penulis yang asli atau tidak.
c.       Kesaksian ekstra-biblis mengatribusikan injil-injil kepada penulis-penulis tradisional mereka: Surat Barnabas, Surat Clement, the Gembala Hermes, Theophilus, Hippolytus, Origenes, Quadratus, Irenaeus, Melito, Polycarpus, Justin Martir, Dionysius, Tertullianus, Cyprianus, Tatianus, Caius, Athanasius, Cyril, hingga Eusebius pada tahun 315. Bahkan lawan-lawan kekristenan juga merujuknya: Celsus, Porphyry, Kaisar Julianus.
 (B) Bukti bahwa Injil-injil yang kita miliki sekarang sama dengan yang awal ditulis:
1.      Karena kebutuhan untuk pengajaran dan devosi pribadi, tulisan-tulisan ini tentu telah dikopi berulang-ulang, yang meningkatkan peluang keterpeliharaan teks asli.
2.      Tidak ada tulisan kuno lainnya yang tersedia dalam banyak eksemplar, namun semua versi yang ada selaras dalam isinya.
3.      Naskah Alkitab juga tidak diganggu oleh tambahan-tambahan heretic atau bidat. Perbedaan-perbedaan yang ada hanya bersifat minor dan berasal dari kesalahan-kesalahan tanpa sengaja dalam proses penyalinan.
4.      Kutipan-kutipan PB dalam tulisan Bapa-bapa Gereja semuanya selaras.
5.      Injil-injil tidak mungkin dilencengkan tanpa perlawanan dari orang-orang Kristen ortodoks.
6.      Tidak ada yang mampu melencengkan semua manuskrip Alkitab yang ada.
7.      Tidak ada waktu yang akurat mengenai kapan falsifikasi, atau penyelewengan teks, terjadi.
8.      Teks PB sama baiknya dengan tulisan-tulisan klasik dari zaman kuno.
 Richard Purtill meringkaskannya demikian:
Many events which are regarded as firmly established historically have (1) far less documentary evidence than many biblical events; (2) and the documents on which historians rely for much secular history are written much longer after the event than many records of biblical events; (3) furthermore, we have many more copies of biblical narratives than of secular histories; and (4) the surviving copies are much earlier than those on which our evidence for secular history is based. If the biblical narratives did not contain accounts of miraculous events, biblical history would probably be regarded as much more firmly established than most of the history of, say, classical Greece and Rome.[12]

Beberapa catatan dari tulisan-tulisan non-Kristen a.l.:
Catatan historis akan eksistensi Yesus jelas dan kuat. Sebagai contoh, sejarahwan Romawi, Tacitus, yang menulis pada tahun 115 masehi, mencatat kejadian-kejadian di sekitar Kaisar Nero pada bulan Juli tahun 64 masehi. Setelah kebakaran menghancurkan banyak bagian kota Roma, Nero dipersalahkan dan diminta bertanggung jawab:
“Consequently, to get rid of the report, Nero fastened the guilt and inflicted the most exquisite tortures on a class hated for their abominations, called Christians by the populace. Christus [Christ], from whom the name had its origin, suffered the extreme penalty during the reign of Tiberius at the hands of one of our procurators, Pontius Pilate, and a most mischievous superstition [Christ's resurrection] thus checked for the moment, again broke out not only in Judea, the first source of the evil, but even in Rome, where all things hideous and shameful from every part of the world find their center and become popular.[13]

Pada tahun 112 masehi, gubernur Romawi di daerah yang sekarang adalah Turki utara, Pliny the Younger, menulis kepada Kaisar Trajan tentang orang-orang Kristen di wilayahnya:
"I was never present at any trial of Christians; therefore I do not know what are the customary penalties or investigations, and what limits are observed. . . whether those who recant should be pardoned. . . whether the name itself, even if innocent of crime, should be punished, or only the crimes attaching to that name. . . . Meanwhile, this is the course that I have adopted in the case of those brought before me as Christians. I ask them if they are Christians. If they admit it I repeat the question a second and a third time, threatening capital punishment; if they persist I sentence them to death. For I do not doubt that, whatever kind of crime it may be to which they have confessed, their pertinacity and inflexible obstinacy should certainly be punished. . . the very fact of my dealing with the question led to a wider spread of the charge, and a great variety of cases were brought before me. An anonymous pamphlet was issued, containing many names. All who denied that they were or had been Christians I considered should be discharged, because they called upon the gods at my dictation and did reverence. . .and especially because they cursed Christ, a thing which it is said, genuine Christians cannot be induced to do."[14]

Kemudian, orang yang sama, Pliny the Younger, juga menulis:
“They (the Christians) were in the habit of meeting on a certain fixed day before it was light, when they sang in alternate verses a hymn to Christ, as to a god, and bound themselves by a solemn oath, not to any wicked deeds, but never to commit any fraud, theft or adultery, never to falsify their word, nor deny a trust when they should be called upon to deliver it up; after which it was their custom to separate, and then reassemble to partake of food—but food of an ordinary and innocent kind.”
 “An anonymous accusatory pamphlet has been circulated containing the named of many people. I decided to dismiss any who denied that they are or ever have been Christians when they repeated after me a formula invoking the gods and made offerings of wine and incense to your image [or statue], which I had ordered to be brought with the images of the gods into court for this reason, and when they reviled Christ [Christo male dicere]. I understand that no one who is really a Christian can be made to do these things. Other people, whose names were given to me by an informer, first said that they were Christians and then denied it. They said that they had stopped being Christian two or more years ago, and some more than twenty. They all venerated your image and the images of the gods as the others did, and reviled Christ. They also maintained that the sum total of this guilt or error was no more than the following. They had met regularly before dawn on a determined day, and sung antiphonally a hymn to Christ as if to a god [carmenque Christo quasi deo decere secum invicem]. They also took an oath not for any crime, but to keep from theft, robbery and adultery, not to break any promise, and not to withhold a deposit when reclaimed.”

Josephus (c. 93-94 AD):
At this time there was a wise man called Jesus, and his conduct was good, and he was known to be virtuous. Many people among the Jews and the other nations became his disciples. Pilate condemned him to be crucified and to die. But those who had become his disciples did not abandon his discipleship. They reported that he had appeared to them three days after his crucifixion and that he was alive. Accordingly, he was perhaps the Messiah, concerning whom the prophets have reported wonders. And the tribe of the Christians, so named after him, has not disappeared to this day.[15]

“Upon Festus' death, Caesar sent Albinus to Judea as procurator. But before he arrived, King Agrippa had appointed Ananus to the priesthood, who was the son of the elder Ananus [or Annas of the Gospels]. This elder Ananus, after he himself had been high priest, had five sons, all of whom achieved that office, which was unparalleled. The younger Ananus, however, was rash and followed the Sadducees, who are heartless when they sit in judgment. Ananus thought that with Festus dead and Albinus still on the way, he would have his opportunity. Convening the judges of the Sanhedrin, he brought before them a man named James, the brother of Jesus who was called the Christ, and certain others. He accused them of having transgressed the law, and condemned them to be stoned to death.”[16]

Tacitus (c. 116 AD)
“Therefore, to put down the rumor, Nero substituted as culprits and punished in the most unusual ways those hated for their shameful acts [flagitia], whom the crowd called 'Chrestians.' The founder of this name, Christ, had been executed in the reign of Tiberius by the procurator Pontius Pilate [Auctor nominis eius Christus Tiberio imperitante per procuratorem Pontium Pilatum supplicio adfectus erat]. Suppressed for a time, the deadly superstition erupted again not only in Judea, the origin of this evil, but also in the city [Rome], where all things horrible and shameful from everywhere come together and become popular. Therefore, first those who admitted to it were arrested, then on their information a very large multitude was convicted, not so much for the crime of arson as for hatred of the human race [odium humani generis]. Derision was added to their end: they were covered with the skins of wild animals and torn to death by dogs; or they were crucified and when the day ended they were burned as torches. Nero provided his gardens for the spectacle and gave a show in his circus, mixing with the people in charioteer's clothing, or standing on his racing chariot.”[17]

Suetonius (c. 120 AD)
“He [Claudius] expelled the Jews from Rome, since they were always making disturbances because of this instigator Chrestus [Judaeos impulsore Chresto assidue tumultuantis Roma expulit].”[18]

Mara bar Serapion (kira-kira 73 AD)
“What advantage did the Athenians gain by murdering Socrates, for which they were repaid with famine and pestilence? Or the people of Samos by the burning of Pythagoras, because their country was completely covered in sand in just one hour? Or the Jews [by killing] their wise king, because their kingdom was taken away at that very time? God justly repaid the wisdom of these three men: the Athenians died of famine; the Samians were completely overwhelmed by the sea; and the Jews, desolate and driven from their own kingdom, are scattered through every nation. Socrates is not dead, because of Plato; neither is Pythagoras, because of the statue of Juno; nor is the wise king, because of the new laws he laid down.”[19]


[1] Bagian ini berasal dari Michael Patton, reclaimingthemind.org.
[2] Nelson Glueck, Rivers in the Desert; History of Negev (Philadelphia: Jewish Publications Society of America, 1969), h. 31.
[3] Gregory Boyd, Letters from a Skeptic (Colorado Springs, CO: Cook Communication Ministries, 2003), h. 85-86
[4] Teori-teori ini diambil dari Peter Kreeft dan Ronald C. Takelli, The Pocket Handbook of Christian Apologetics (Downers Grove: IVP, 2003), h. 70-78.
[5] Pascal, Pensees 322, 310
[6] Summa Contra Gentiles, I, 6
[7] William Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus (Lewiston: Edwin Mellen Press, 1989), h. 213, 214.

[8] C.S. Lewis, Miracles, chapter 16.
[9] Julius Muller, The Theory of Myths in Its Application to the Gospel History Examined and Confuted  (London, 1844), h. 26.
[10] Agustinus, Confessions, V, 11, Sheed translation.

[11] W.L. Craig, Apologetics, chapter 6.
[12] Richard Purtill, Thinking About Religion, h. 84-85.
[13] Henry Bettenson, Documents of the Christian Church (Oxford Press, London, 1943), h. 2.
[14] Bettenson, h. 3.
[15] Antiquities XVIII, 63 from Josephus: The Essential Writings ed. Paul L. Maier, h. 264-265.
[16] Antiquities XX, 197; from Josephus, Maier, h. 275-276.
[17] Annals 15:44
[18] Lives of the Caesars, buku 5, Claudius 25:4.
[19] Letter in Syriac to his son.